Satir Pemerintahan dan koruptor Skandal dengan satir Dark Humor
Satir Pemerintahan dan koruptor Skandal dengan satir Dark Humor | Ada negara yang punya banyak gedung pemerintahan, banyak rapat, banyak spanduk antikorupsi, dan entah bagaimana juga punya banyak kasus korupsi.

Mungkin ini bukan masalah.
Mungkin kita hanya sedang menyaksikan sebuah pertunjukan besar bernama tata kelola pemerintahan, tempat semua orang terlihat sibuk menyelesaikan masalah yang sebagian di antaranya muncul karena kesibukan mereka sendiri.
Tenang saja, semuanya terkendali.
Setidaknya begitu tulisan di spanduk.
Korupsi: Penyakit yang Rajin Mengikuti Rapat
Korupsi bukan lagi sekadar mengambil uang negara diam-diam.
Di negeri satir, korupsi bisa tumbuh dengan sangat terorganisir. Ada rapatnya, ada proposalnya, ada tanda tangannya, ada stempelnya, bahkan mungkin ada dokumentasi kegiatannya.
Yang tidak ada hanya satu:
Uangnya.
Ketika proyek selesai dan hasilnya tidak sesuai harapan, biasanya akan muncul kalimat sakti:
“Sedang dilakukan evaluasi.”
Kalimat tersebut sangat fleksibel. Bisa digunakan untuk proyek gagal, pelayanan buruk, sistem bermasalah, bahkan ketika semua orang sebenarnya sudah tahu siapa yang harus bertanggung jawab.
Evaluasi adalah cara elegan untuk mengatakan bahwa sesuatu sudah kacau, tetapi belum waktunya mencari siapa yang membuatnya kacau.
Negara Penuh Transparansi, Kecuali Bagian yang Penting
Pemerintahan modern sangat menyukai kata transparansi.
Kata ini biasanya dicetak besar-besar agar mudah dibaca.
Sayangnya, semakin dekat masyarakat ingin melihat detailnya, semakin buram tampilannya.
Anggaran tersedia.
Dokumen tersedia.
Informasi tersedia.
Pertanyaannya tinggal satu: tersedia untuk siapa?
Masyarakat boleh mengetahui bahwa negara mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
Tetapi ketika bertanya uang itu pergi ke mana, jawabannya bisa menjadi lebih misterius daripada plot film detektif.
Mungkin uangnya sedang dalam perjalanan.
Mungkin sedang diverifikasi.
Atau mungkin sudah sampai tujuan, hanya saja tujuan tersebut tidak ada di peta.
Koruptor Tidak Selalu Berpakaian Hitam
Dalam film, penjahat biasanya mudah dikenali.
Wajahnya menyeramkan. Pakaiannya gelap. Senyumnya mencurigakan.
Di dunia nyata, ceritanya tidak sesederhana itu.
Koruptor bisa tampil rapi, sopan, berpendidikan, pandai berbicara, rajin menghadiri acara resmi, dan bahkan sangat fasih mengucapkan kata “demi kepentingan rakyat”.
Inilah bagian yang membuat korupsi begitu berbahaya.
Korupsi tidak selalu datang dengan wajah kriminal.
Kadang ia datang membawa map, mengenakan jas, tersenyum di depan kamera, lalu pulang membawa keputusan yang nilainya membuat kalkulator ikut mengalami krisis identitas.
Skandal Dimulai dari Angka yang Terlalu Sempurna
Salah satu hal paling lucu dari sebuah skandal adalah ketika angka-angka mulai berbicara.
Harga barang bisa menjadi beberapa kali lipat.
Proyek bisa memiliki nilai fantastis.
Sementara hasil akhirnya terlihat seperti dikerjakan menggunakan anggaran hasil patungan satu RT.
Tetapi jangan buru-buru curiga.
Bisa saja itu adalah inovasi.
Barangkali pemerintah sedang mengembangkan teknologi baru bernama mahal tetapi tidak terlihat.
Teknologi tersebut sangat maju karena hasilnya tidak dapat ditemukan dengan mata telanjang.
Rapat Lagi, Rapat Lagi
Ketika masalah muncul, langkah pertama biasanya adalah rapat.
Masalah dibahas.
Solusi dirumuskan.
Notulen dibuat.
Foto bersama diambil.
Kemudian rapat berikutnya dijadwalkan untuk membahas hasil rapat sebelumnya.
Begitulah roda pemerintahan berputar.
Tidak selalu maju.
Tetapi setidaknya berputar.
Dan dalam sistem yang sangat sibuk itu, korupsi mungkin hanya perlu menunggu sampai semua orang terlalu lelah untuk bertanya.
Hukuman yang Membuat Orang Berpikir
Pemberantasan korupsi seharusnya membuat orang takut melakukan korupsi.
Tetapi dalam satire gelap, yang terjadi justru sebaliknya.
Masyarakat melihat kasus demi kasus.
Angka kerugian negara semakin panjang.
Nama-nama bermunculan.
Pernyataan resmi disampaikan.
Kemudian semuanya berlalu.
Masyarakat pun bertanya:
“Kalau korupsi begitu berbahaya, mengapa orang masih berani melakukannya?”
Mungkin karena sebagian orang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan rasa malu.
Atau mungkin karena mereka percaya bahwa ingatan publik lebih pendek daripada masa jabatan.
Untungnya, internet memiliki satu kelebihan:
Netizen punya screenshot.
Rakyat Diminta Bersabar
Ketika masyarakat mengeluhkan pelayanan publik, jawabannya sering sederhana:
“Mohon bersabar.”
Kalimat tersebut terdengar menenangkan.
Sangat menenangkan.
Terutama bagi orang yang sudah membayar pajak, memenuhi kewajiban, mengikuti prosedur, tetapi masih harus menunggu sesuatu yang seharusnya memang menjadi haknya.
Rakyat diminta bersabar.
Sementara anggaran terus berjalan.
Proyek terus berjalan.
Rapat terus berjalan.
Dan entah mengapa, masalahnya juga terus berjalan.
Korupsi Tidak Hilang Hanya Karena Spanduk
Hampir setiap institusi bisa membuat slogan antikorupsi.
Tulisan besar.
Warna mencolok.
Kalimat penuh semangat.
Foto pejabat berdiri di depan kamera.
Tetapi korupsi tidak takut pada spanduk.
Korupsi juga tidak takut pada seminar.
Ia takut pada sistem yang benar-benar tertutup bagi manipulasi.
Ia takut pada audit yang serius.
Ia takut pada data yang terbuka.
Ia takut pada penyidik yang tidak bisa dibeli.
Dan yang paling menakutkan bagi koruptor adalah masyarakat yang mau bertanya dan tidak berhenti bertanya.
Dark Humor Terakhir: Yang Hilang Bukan Hanya Uang
Skandal korupsi selalu memiliki angka.
Berapa uang yang hilang.
Berapa kerugian negara.
Berapa nilai proyek.
Berapa orang yang diperiksa.
Tetapi ada angka yang jarang dihitung:
Berapa banyak sekolah yang seharusnya bisa diperbaiki?
Berapa banyak fasilitas kesehatan yang bisa dibangun?
Berapa banyak jalan yang seharusnya lebih layak?
Berapa banyak masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan lebih baik?
Di situlah humor berubah menjadi pahit.
Karena yang hilang dari korupsi bukan cuma uang.
Yang ikut hilang adalah kesempatan.
Kesempatan seseorang mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Kesempatan pasien memperoleh pelayanan yang layak.
Kesempatan masyarakat hidup dengan fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan.
Dan kesempatan sebuah negara untuk menjadi sedikit lebih baik.
Kesimpulan: Mari Tertawa Sebelum Menangis
Satire memang membuat kita tertawa.
Dark humor bahkan membuat kita tertawa pada sesuatu yang sebenarnya menyakitkan.
Tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar membuat korupsi menjadi bahan lelucon.
Justru sebaliknya.
Satire digunakan untuk menunjukkan betapa absurdnya sebuah keadaan ketika sesuatu yang seharusnya memalukan justru menjadi tontonan berulang.
Pemerintahan tidak seharusnya hanya pandai membuat slogan.
Koruptor tidak seharusnya lebih pintar mencari celah daripada negara menutup celah.
Dan masyarakat tidak seharusnya terus menjadi penonton dari drama yang tiketnya mereka bayar melalui pajak.
Kalau suatu hari kita sudah bisa menertawakan korupsi tanpa merasa marah, mungkin ada dua kemungkinan.
Pertama, masalahnya sudah selesai.
Atau kedua, kita sudah terlalu terbiasa.
Semoga yang terjadi adalah yang pertama.
































